Suatu malam di bulan Februari, bersama seseorang yang spesial ku arungi sejuknya kota bandung. Malam kenangan ... malam yang tidak akan pernah dilupakan ... Dengan mengendarai sepeda motor melaju ke ketinggian daerah setiabudi. Meski udara malam itu terasa dingin tetapi dengan hadirnya "dia" dan ketenangan di dalam jiwa, seoalah dingin sudah menjadi kata benda yang "tiada".
Sampai di tempat tujuan, sambil duduk bersila --diantara ribuan pengunjung yang hadir-- di pelataran toko aku coba fokuskan pikiran ke petuah-petuah bijak yang disampaikan. Kadang suara gaduh dari motor yang berlalu-lalang, sempat pula usik konsentrasi, dan membawa kembali bayang wajah "itu". Hmmmh memang sulit lepas, sulit sekali menghapus wajah "itu". Dua jam duduk, dua jam pula kesadaran ini berulang kali terenggut oleh wajah "itu".
Setelah seleasai "guru" mendo'akan kami semua yang hadir, maka ribuan manusia yang sedari tadi seolah terbius di tempat duduknya masing-masing, kembali berhamburan ke jalan, ke rumah, ke anak2nya, ke istri2nya kembali. Dan aku ... akhirnya menemui wajah "itu" kembali.
Diapun sedang berdiri menanti, mengamati dengan senyum terpatri.
Oh indah ... sungguh indah ... seandainya potongan waktu itu untuk selamanya, atau dapat dibingkai --akan ku bingkai-- atau dapat berulang --akan ku ulang berulang ... berulang dan berulang kali lagi-- atau apabila mampu ku bertemu "sang waktu" --akan ku-mohonkan untuk mengantarku ke saat itu--
Wajah "itu" begitu anggun, begitu polos, begitu bersahaja.
Apabila wajah "itu" air,
maka ia yang memberiku minum di gurun yang dahaga
Apabila wajah "itu" pelita,
maka ia yang menjadi mata bagi yang buta
Apabila wajah "itu" damai,
maka ia yang menghadirkannya di jiwa yang resah
Bandung 2005
Sampai di tempat tujuan, sambil duduk bersila --diantara ribuan pengunjung yang hadir-- di pelataran toko aku coba fokuskan pikiran ke petuah-petuah bijak yang disampaikan. Kadang suara gaduh dari motor yang berlalu-lalang, sempat pula usik konsentrasi, dan membawa kembali bayang wajah "itu". Hmmmh memang sulit lepas, sulit sekali menghapus wajah "itu". Dua jam duduk, dua jam pula kesadaran ini berulang kali terenggut oleh wajah "itu".
Setelah seleasai "guru" mendo'akan kami semua yang hadir, maka ribuan manusia yang sedari tadi seolah terbius di tempat duduknya masing-masing, kembali berhamburan ke jalan, ke rumah, ke anak2nya, ke istri2nya kembali. Dan aku ... akhirnya menemui wajah "itu" kembali.
Diapun sedang berdiri menanti, mengamati dengan senyum terpatri.
Oh indah ... sungguh indah ... seandainya potongan waktu itu untuk selamanya, atau dapat dibingkai --akan ku bingkai-- atau dapat berulang --akan ku ulang berulang ... berulang dan berulang kali lagi-- atau apabila mampu ku bertemu "sang waktu" --akan ku-mohonkan untuk mengantarku ke saat itu--
Wajah "itu" begitu anggun, begitu polos, begitu bersahaja.
Apabila wajah "itu" air,
maka ia yang memberiku minum di gurun yang dahaga
Apabila wajah "itu" pelita,
maka ia yang menjadi mata bagi yang buta
Apabila wajah "itu" damai,
maka ia yang menghadirkannya di jiwa yang resah
Bandung 2005
